My Marvell

Admin Web FIB UB

BEDA PDKT JAMAN DULU DAN JAMAN SEKARANG

Lagi Naksir
Jaman dulu :
Sok2 pinjem buku, pinjem catatan.
Balikinnya pake disampulin, ditempelin
puisi cinta atau teks lagu Kangen-nya
Dewa 19 yg lagi ngetop. Berharap target
baca dan tau isi hati kita kalo kita suka dia.

Jaman sekarang :
Semua status di FB bakal di-like dan di-
comment dengan sangat manis, meskipun
status yang bersangkutan sangat-sangat ga
mutu dan sangat-sangat ga penting.
Niat telpon

Jaman dulu :
Tanya nomer telpon ke temen satu geng
si target. Kalo udah dapet, telpon pura2
tanya PR atau mau pinjam catatan. Itu
juga telponnya sembunyi2 kalo rumah lagi
pada kosong, malu ketauan orang rumah
kalo kita lagi sukaan sama seseorang . Telp
juga ga bisa lama2 karena telp bayarnya
mahal. Lewat 10 menit pasti ortu mondar-
mandir di tempat kita telp. Kalo mau telp
di telp umum, pura2 nukerin duit dulu di
mbak2 penjaga game dingdong. Tuker duit
seribu, yg buat maen cuma 1 keping 100
perak biar ga curiga kalo tuker duitnya
cuma buat telp di telp umum sebrang
jalan.

Jaman sekarang :
Tanya nomer hp, ga butuh telp rumah.
Risiko kalo telp ke rumah doi ntar
diinterogasi bapaknya yg seremnya
naudzubillah. Kalo udah dapet nomer
hapenya, sms aja dulu. Ga PD kalo
langsung telp. Diawali dengan topik ga
guna seperti, ”Lagi ngapain?”. Kalo ga
dibales rasanya pengen nelen HP bulet2
sambil dicocolin sambel dikit… Kalo
gayung bersambut, SMS bakal berlanjut ke
telp2an. Apalagi sekarang tarif seluler
makin murah, terutama kalo pake provider
yg sama. (more…)

Malaikat Penjaga

Suatu pagi seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia.

Dia bertanya kepada Tuhan,
Bayi : “Para malaikat di sini mengatakan
bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil & lemah.”

Tuhan : “Aku sudah memilih 1 malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu.”
Bayi : “Tapi di sini di dalam surga apa yang pernah kulakukan hany

alah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya.”

Tuhan : “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangantan cintanya dan menjadi lebih berbahagia.”

Bayi : “Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?”

Tuhan : “Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa paling indah yang pernah engkau dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkanmu bagaimana cara berbicara.”

Bayi : “Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?”

Tuhan : “Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa.”

Bayi : “Saya dengar bahwa di bumi banyak orang yang jahat, siapakah nanti yang akan melindungi saya?”

Tuhan : “Malaikatmu akan melindungimu walaupun hal itu akan mengancam jiwanya.”

Bayi : “Tapi saya pasti akan sedih karena tidak melihatMu lagi.”

Tuhan : “Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu.”
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar dan sang bayi pun bertanya perlahan,

“Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?”

Jawab Tuhan,
…..”Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu.”

‎… DAN UMAR PUN MENANGIS …

Bismillahir-Rah­maanir-Rahim … Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syaitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain.

Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku. (more…)